Penderita HIV/AIDS Di Cilegon Angka Grafiknya Naik

38

CILEGON – Jumlah penderita Human Immunodeficiency Virus/Acquired Immuno Deficiency Syndrome (HIV/AIDS) di Kota Cilegon terus mengalami peningkatan. Hingga saat ini tercatat ada sebanyak 506 orang di Kota Industri terjangkit penyakit mematikan yang belum ada obatnya itu.

Bahkan jumlahnya cenderung meningkat setiap tahunnya. Salah satu pemicunya yakni dari golongan LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender).

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Cilegon Arriadna menyatakan bahwa penyakit HIV/AIDS tidak bisa diberantas sebab hingga kini belum ada obatnya. “Kita hanya mengendalikan dan melakukan pemetaan supaya penderita HIV/AIDS ini terus menurun,” ujarnya, Rabu (17/10/2018).

Dikatakan bahwa grafik penderita HIV/AIDS di Kota Cilegon terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahunnya. “Sejak tahun 2005 sampai September 2018 kami punya data HIV/AIDS sebanyak 733 orang, HIV 442 dan AIDS 311. Dari jumlah tersebut 227 meninggal, jadi yang saat ini sisanya 506 kasus. Yang terdeteksi ini kita minta berobat rutin,” terangnya.

Kasus peningkatan HIV/AIDS di Kota Cilegon, kata Arriadna, turut dipicu oleh kelompok LGBT. Padahal sebelumnya, kasus penyakit menular tersebut paling banyak diderita pengguna narkoba jarum suntik dan dari Pekerja Seks Komersial (PSK).

“Tapi sekarang justru kebanyakan dipicu kaum LGBT, terutama LSL (Laki Suka Laki). Trennya terus meningkat. Pada tahun 2015 kita temukan sebanyak 72 kasus, kemudian 2016 sebanyak 79 kasus, tahun 2017 sebanyak 75 kasus dan pada 2018 hingga September sebanyak 51 kasus,” terangnya.

Arriadna menyatakan bahwa LGBT ini terutama LSL sulit terdeteksi, sebab golongan ini terbilang eksklusif.

“Kalau dari PSK dan waria kita mudah mendeteksinya. Kalau ada razia Satpol-PP kita bisa data mereka. Nah, kalau LSL ini kita sulit mendeteksinya, mereka ekslusif,” terangnya. (RS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here